Senin, 12 Mei 2014

Memenangkan Indonesia

Sebuah tulisan yang menarik sebagai penyemangat dan renungan untuk kita selaku bagian dari masyarakat, bangsa dan negara ini.

------------------------------------------------

Selasa, 04 Februari 2014

Melihat Banjir : Antara Manfaat dan Mudharat

Oleh : Muhammad Kridaanto*



Selain banjir air yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, disinyalir tahun ini akan terjadi banjir besar lainnya. Bencana banjir identik dengan bencana yang merugikan masyarakat. Karena aktivitas bekerja menjadi lumpuh, bahkan membuat masyarakat rentan terkena penyakit.


Di tahun ini pula beberapa peneliti sudah memprediksi bahwa bencana banjir ini akan berlangsung cukup lama. Alasannya adalah selain banjir air yang diprediksi terjadi sampai bulan Maret, masyarakat juga akan terkena banjir lainnya. Tak lain-tak bukan adalah Banjir Janji Politik.


Menanggapi prediksi lamanya masa banjir di tahun ini, khususnya pasca banjir air dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mempersiapkannya secara matang. Istilahnya "sedia payung sebelum hujan".


Menjelang pesta demokrasi ini, masyarakat kembali disuguhi pesta dan "banjir". Tentu banjir yang ini lebih "menyehatkan" sekaligus "melenakan". Di sini masa lampau menjadi sosok "guru berharga nan bijak".


Lalu bagaimana sudut pandang lain tentang Manfaat dan Mudharat Banjir panjang di tahun ini?


Jujur saja, karena ini di facebook jadi saya tidak ingin terlalu panjang, toh pembaca memiliki kesibukan mengurusi kesiapan banjir air juga tho. Yang jelas saya hanya ingin berbagi. Masyarakat tidak boleh hanya berdiam menghadapi banjir, khususnya pada banjir janji politik. Apalagi kita selaku anak muda. Semangat untuk bergerak dan menerjang suatu fenomena konservatif adalah gejolak masa muda yang begitu indah. Kenapa saya bilang indah, karena masa muda adalah masa pergolakan pemikiran. :D


Kita tak bisa berdiam diri dan bersikap apatis jika menginginkan kondisi  masyarakat (bangsa dalam tataran luas) semakin baik. Sudah tidak eranya anak muda berdiam diri. Para pemuda adalah penggebrak  dari kondisi stagnan generasi tua. Pemuda bukan hanya sebagai objek korban banjir politik semata lantaran masih awam di dunia perpolitikan. Apalagi menyerahkan diri pada sikap apatis terhadap banjir-banjir ini.

.Terus solusinya bagaimana? Oke, yang jelas simpel kok. Salah satunya dengan rajin cari tahu dan mau tahu soal para calon pemimpin baik itu caleg ataupun capres. 


Sehingga banjir apapun di tahun ini dapat dihadapi dengan kesiapan matang. Ibarat orang menggunakan motor saat musim hujan, si pengendara dapat mencari jalan terbaik untuk mencapai tujuan di tengah ancaman air.


Dan diharapkan pasca "pesta banjir" ini, kemakmuran masyarakat semakin membaik. Seperti halnya banjir air yang kita harapkan akan lebih membuat tanah menjadi subur. Sesubur Bumi pertiwi ini. Indonesia.


*Penulis adalah Relawan Demokrasi KPU Kabupaten Kendal, Mahasiswa Universitas Negeri Semarang



Menuju 9 April 2014 --> Pemilihan Umum dalam rangka memilih anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan DPD RI.


Pemilih Cerdas, pemilih berkualitas, Berusaha mengungkap sedikit tentang Banjir Manfaat dan banjir Mudharat. :D

Kamis, 30 Januari 2014

Poin-Poin Penting "Janji Kebangsaan Kita"

JANJI KEBANGSAAN KITA


  • Judul                      :   Janji Kebangsaan Kita  
  • No. ISBN                :   9786021411100 
  • Penulis                   :   Anas Urbaningrum 
  • Penerbit                 :   Kepik 
  • Tanggal terbit        :   November - 2013 
  • Jumlah Halaman    :    264 
  • Jenis Cover           :    Soft Cover  
  • Kategori                :   Sosial-Politik 


Melihat profil para politisi kita memang tak akan ada habisnya. Karena citra yang cenderung negatif, karena media yang lebih suka memberitakan informasi negatif dari dampak The Art of Political War.

Istilahnya terjadi kesalahan dalam pendidikan politik (Political education) kepada masyarakat. Terlebih lagi hilangnya roh politik yang seharusnya digunakan untuk mencapai tujuan bersama dengan cara bijak dan bermartabat.


Ada satu tokoh muda yang menarik perhatian saya. Terlepas dari "tuduhan politik" yang  dialamatkan kepadanya. Ada suatu rasa penasaran tentang ide, pola pikir maupun sense of politic dari tokoh ini.


Anas Urbaningrum namanya. Buku yang saya pegang berjudul "Janji Kebangsaan Kita" merupakan salah satu dari hasil tulisan karya-karya Bang Anas.


Buku yang berisi tulisan-tulisannya yang terpublikasi di media massa maupun yang belum terpublikasi ini cukup menarik.  Buku yang berisi kumpulan esai sosial-politik.


Berbagai sudut pandang mengenai topik Kebangsaan, Agama, Pancasila, Kerukunan Beragama, sampai Politik dan Demokrasi diuraikan di buku ini.


Dari tulisan-tulisan tersebut akan membuat pemikiran kita bertambah, baik segi ilmu maupun nilai-nilai sosial.


Bagi saya politisi muda ini memang luar biasa, sebagai salah satu pentolan tokoh reformasi dan pejuang dalam mengawal tujuan reformasi di republik ini.


Ada beberapa kutipan dari @Sahabat_Anas mengenai buku ini untuk dijadikan renungan oleh hati dan pikiran kita. Berikut ini kutipan-kutipannya: 

  • Demokrasi produktif adalah demokrasi yang mampu menyelesaikan masalah.
  • Meritokrasi adalah agenda terpenting dalam membangun budaya demokrasi.
  • Demokrasi yang produktif adalah memfokuskan diri pada pencapaian demokrasi itu sendiri, yaitu kesejahteraan rakyat.
  • Menjadi Indonesia bukanlah suatu yang terberi, tapi dipilih, dan kemudian diperjuangkan.
  • Tugas besar kita adalah menghidupkan kembali ruh Pancasila sebagai ideologi yg hidup dan ideologi yg bekerja.
  • Kita tak mungkin memutar kembali jarum jam ke belakang. Bangsa ini sudah berjanji, menjadi bangsa Indonesia dan tugas kita adalah merawat janji tersebut.
  • Tuntutan utama para pejuang Reformasi adalah demokrasi yang fokus utamanya adalah kebebasan.
  • Demokrasi adalah fitrah kehidupan politik, sehingga layak diperjuangkan dengan sekuat tenaga.
  • Pengertian demokrasi yg paling minimalis adalah adanya pergantian kekuasaan secara berkala melalui pemilu.

Dalam prakata buku tersebut ditutup dengan kutipan puisi dari penyair Taufiq Ismail yang dikaguminya :


Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini

Tak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur berarti hancur


(Taufiq Ismail, Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini, 1966)


Selamat membaca dan mengarungi sudut pandang unik dari seorang Anas Urbaningrum.

Saya termasuk salah seorang yang meyakini Anas belum titik, Anas akan melewati episode pertapaannya dengan baik dan makin matang. Anas akan titik, titik, titik dan … dengan halaman-halamannya berikutnya. Kita lihat saja. :-)

Salam Pergerakan,… 

Minggu, 26 Januari 2014

Resensi Buku : Jurus Dewa Mabuk ala Gus Dur

Judul                              : Jurus Dewa Mabuk ala Gus Dur
                                         Kumpulan Rekam Jejak KH                                                              Abdurrahman Wahid di Media Massa
Penyusun                      :    M. Rofiq Madji
Penerbit                        :    Pustaka Tebuireng
ISBN                              :    978-602-8805-12-4
Cetakan                        :    Januari 2012
Jumlah Halaman           :    xxii + 567 halaman
Peresensi                     :    Muhammad Kridaanto*

Merekam jejak tokoh yang satu ini memang sangat menarik. Dengan karakter yang kuat dan kadang sulit diprediksi banyak orang, tokoh ini mampu membuktikan bahwa tindakannya adalah tindakan nyata dalam membela kebenaran dan memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.

KH Abdurrahman Wahid atau sering dipanggil Gus Dur memiliki sejarah sendiri. Dalam berbagai bidang beliau berkiprah. Selain dikenal sebagai Kiai, Ulama, Politikus, Budayawan bahkan beliau mampu menjadi penghibur dengan guyonan-guyonannya. Tak berlebihan jika banyak sekali buku-buku yang telah terbit dan menceritakan tentang beliau baik dari segi ilmu agama, politik, biografi, guyonan, bahkan pengalaman-pengalaman pribadi beliau.

Buku ini merupakan salah satu buku yang berusaha mengungkap sosok Gus Dur dari rekam jejaknya di berbagai media massa. Buku yang disusun oleh M. Rofiq Madji berasal dari kliping-kliping dari media massa yang memuat Gus Dur sejak tahun 1980-an.

Dari rentang waktu yang cukup panjang ini, pembaca akan mendapat gambaran situasi yang mendampingi gerak kehidupan Gus Dur.

Perilaku, sikap maupun pemikiran yang “unik” ini membuat pembaca bisa mengarungi pemikiran Gus Dur. Juga bagi yang berpikiran sinis terhadap sosok ini akan mendapat melihat sudut pandang lain.

Buku ini terdiri dari delapan bagian, terdiri dari tujuh bagian perjalanan hidup  Gus Dur dan satu bagian lampiran.   Yang memuat berbagai garis besar, baik hubungan Gus Dur dalam segi agama, NU (Nahdlatul Ulama), Politik, maupun dalam tataran kiprah Gus Dur di PKB (Partai Kebangkitan Bangsa).

Buku ini menjadi referensi berharga bagi siapa saja yang ingin membaca jejak dari seorang kyai, politisi maupun budayawan yang memiliki bakat interdisiplineritas. Pemikiran Gus Dur yang kritis dan sering dianggap kontroversial karena ketidaktahuan dari latar belakang dari ucapan beliau. Kekritisan itu timbul karena perhatiannya terhadap ketidakadilan yang meraja lela.

Pengalaman beliau baik saat era orde baru,  perjuangan dalam era reformasi bahkan ketika menjadi presiden memang linier untuk membela keadilan. Sehingga sampai sekarang banyak orang yang sangat mengagumi baik pemikiran, anekdot, tulisan-tulisan maupun nasehat Gus Dur.

Maka tak berlebihan ketika tokoh ini menjadi Guru Bangsa dan teladan baik siapa saja, karena beliaupun juga memiliki sikap menghargai multikulturalisme. Hingga perjuangan beliau akan tetap dilanjutkan oleh para pengagum dan penerus-penerusnya.

* Salah satu Gusdurian (pengagum tokoh Gus Dur, dengan segala tingkah, pemikiran dan ilmunya)

Rabu, 01 Januari 2014

Pemimpin Berintegritas dan Humanis


Oleh : Muhammad Kridaanto *)

Krisis kepercayaan menimbulkan suatu masalah multidimensional yang memerlukan pertolongan segera agar tidak merebak menjadi permasalahan yang semrawut. Salah satu hal mendasar dalam memperbaiki persoalan yang ada adalah melalui sosok dan peran pemimpin yang mampu mengayomi dan memiliki integritas.

Dalam Islam sendiri sosok pemimpin diharapkan sebagai orang yang akan membawa pengikutnya menuju keridhoan Allah SWT. Kepemimpinan lebih menitikberatkan pada pemberian amanah. Dari amanah ini ada suatu tanggung jawab sosial.

Sosok pemimpin yang memiliki sifat, sikap dan perilakunya sangat agung adalah Nabi Muhammad SAW.  Selain Nabi sebagai pemimpin agama juga sebagai pemimpin umat. Kepemimpinannya mampu menebarkan rahmatan lil’alamin (rahmat bagi semesta alam). 

Karakter dari Rasulullah yang memiliki sifat Sidiq, Amanah, Tabligh, Fathonah adalah sifat yang luhur nan mulia. Melalui keempat sifat ini Nabi Muhammad menyebarkan ajaran Islam dengan penuh kesantunan dan menjadi seorang pemimpin yang tidak hanya dihormati pengikutnya bahkan oleh lawan-lawannya. Model pemimpin dalam Islam sendiri lebih ke arah pemimpin yang mampu membawa umat untuk mendekat kepada ridho Allah SWT.
Dalam kehidupan berbangsa, sosok presiden yang menjadi pemimpin sebuah negara adalah ujung tombak dari sosok kepemimpinan. Kedekatan antara umara’ dengan ulama sebagai sarana sang pemimpin bisa terus dibimbing dan dituntun, agar selalu dalam kebenaran dan bijaksana dalam kepemimpinannya.

Etika kepemimpinan ala Nabi pada zaman sekarang menjadi suri tauladan bagi munculnya pemimpin-pemimpin yang berintegritas dan berdedikasi. Karena kepemimpinan Nabi adalah sumber profetik yang telah terpraktikkan sepanjang kehidupannya. Meneladani kepemimpinan yang menghubungkan tanggung jawab sosial dengan menjadikan jabatan sebagai amanah dari Allah SWT.

Di sinipun saya menggaris bawahi bahwa pemimpin harus mampu merangkul semua golongan maupun komunitas, sehingga tidak ada diskriminasi terhadap golongan minoritas.

Sosok pemimpin yang membuat saya kagum adalah sosok Gus Dur. Kepemimpinan beliau yang pluralis (merangkul semua), berani untuk turun ke bawah dan sederhana (wara') menjadikan beliau sebagai salah satu simbol kepemimpinan yang luar biasa. Bahkan saat menjabat beliau memperjuangkan hak dari kelompok minoritas untuk mendapat pengakuan sama dalam hukum. Bahkan Gus Dur mendapat gelar sebagai bapak Tionghoa Indonesia. Gus Dur memang sosok yang menjunjung tinggi kebersamaan tanpa membedakan-bedakan asal usul seseorang, warna kulit, bahasa, dan agama.Selain kemampuan politik dan ilmu agama, Gus Dur juga sosok yang memiliki sikap adil tanpa membeda-bedakan. 

Di akhir ini saya ingin mengutip dari Syeikh Abdul Qadir al-Jilani yang pernah berpesan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, maka setidaknya harus memiliki tiga kualitas. Yaitu Ilmul ‘Ulama (seorang yang berilmu layaknya seorang ulama’, sehingga memiliki pengaruh yang besar bagi orang-orang yang dipimpin), Hikmatul Hukama’ (seorang pemimpin harus bersikap adil & bijaksana dlm mengambil keputusan), dan Siyasatul Mulk (memiliki pengetahuan politik yang tinggi)

Hingga diharapkan kita memiliki keinginan untuk meneladani kepemimpinan Nabi dan sosok-sosok pemimpin humanis yang baik suluk (laku)nya.


*) Mahasiswa Jurusan Fisika 2010; Alumni Ketua IPNU Unnes, Aktivis Cultural Freedom